Selfless

30 Agustus 2019
Pdt. Ling Hie Ping

Ditulis oleh Divisi Internal.


Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya bapa-Ku, jikalau sekiranya munngkin, bbiarlah cawann inni lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Enngkau kehendaki.”

Matius 26:39 (TB)

Manusia memiliki pusat pengendalian kehidupan yang mempengaruhi setiap aspek dalam kehidupan, mulai dari rasio, emosi, kehendak, kekuatan, yang pada akhirnya menentukan perbuatan. Pusat pengendalian itu terletak pada hati.

Sebagai perumpamaan, seseorang ditentukan dari apa yang diterimanya di rumah. Seorang yang kerap menimbulkan masalah di masyarakat, umumnya berasal dari rumah/ keluarga yang bermasalah. Begitu pula seseorang ditentukan oleh hatinya. Oleh karena itu, perlu menata, mengarahkan, dan menjaga hati kita. Jangan biarkan hati kita dikendalikan oleh sesuatu yang kotor, najis, dan berdosa. Hadirkan Tuhan di dalam hatimu dan izinkan Ia menata dan mengendalikan hatimu. Dengan kuasa-Nya, Ia yang akan menjadikan kita sebagai pribadi yang baik, benar, kudus, dan memberkati siapapun di mana kita berada. Sebab, kita dihadirkan oleh Tuhan di tengah-tengah dunia bukan untuk sekedar memenuhi Bumi, tetapi kita dipanggil untuk menjadi prajurit-prajurit Kristus.

Setiap perbuatan kita ditentukan oleh hati. Apa yang keluar dari hati (dinyatakan melalui perbuatan), itu yang menajiskan (Matius 15:11). Hasilkanlah buah (yang nampak dalam perbuatan) yang sesuai dengan pertobatanmu (Matius 3:8). Perbuatan kita merupakan cermin dari apa yang ada dalam hati kita.

Self = ego, berarti individual person with typical character/behaviour. Ketika kita dapat memahami diri kita sendiri sebagai pribadi atau individu, kita dapat memahami bagaimana karakter kita. Namun, pemahaman bahwa kita sebagai individual person juga dapat membawa kita kepada pemikiran bahwa diri kita adalah yang utama. Kita dapat belajar dari ilmu padi bahwa semakin kita berilmu, semakin kita pintar, semakin kita rohani, seharusnya kita semakin sadar bahwa kita tidak ada apa-apanya dibandingkan Tuhan yang besar. Itu yang akan menggeser ke-aku-an (selfish).

Seorang yang berpusat pada diri sendiri (selfish) menempatkan dirinya di tempat yang paling tinggi, bahkan Tuhan saja ditempatkan lebih rendah dari dirinya sendiri, apalagi orang lain. Maka tak heran orang yang selfish tidak dapat mengasihi orang lain. Tapi orang yang berpusat pada Kristus, menempatkan Tuhan di tempat paling utama dalam hidupnya dan menempatkan dirinya tidak lebih utama, sehingga bisa mengasihi orang lain.

Kasih yang telah kita terima dari Allah menjadi kekuatan ilahi untuk kita dapat mengasihi Allah dan mengashi sesama (Matius 22:37-39). Minta Tuhan agar kasihnya membanjiri hidup kita, sehingga kasih itu kemudian meluap dari diri kita kepada orang lain (1 Korintus 13:4-7).

Kebutuhan manusia ialah relasi/ fellowship. Bahkan Tuhan Yesus juga butuh teman/ orang lain saat Ia sedang bergumul (Matius 26:37,40b). Seorang manusia pasti butuh orang lain sebagai penolong.

Belajar mengalahkan selfish dari Tuhan Yesus di Matius 26:39:

  • Orientasi baru: tidak lagi berpusat pada diri sendiri, tetapi berpusat pada Tuhan; dari kehendakku menjadi kehendak-Mu.
    (bandingkan dengan Filipi 2:4)
  • Kerelaan memberi dan menderita bagi orang lain.
    (bandingkan dengan Yohanes 15:13)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *