Emotional Healthy Spirituality

Resume Khotbah

Emotional Healthy Spirituality
Stella Christiani (DKV ’11)
31 Agustus 2018
Efesus 4:22-23

Mustahil untuk menjadi dewasa secara ROHANI sementara masih tidak dewasa secara EMOSI.
Dewasa secara emosi diartikan sebagai kondisi saat kita dapat mengenali, mengungkapkan dan mengendalikan emosi secara tepat dengan porsi yang pas.

Emosi itu sendiri didefinisikan sebagai perasaaan yang kuat (strong feeling) tentang suatu hal. Emosi itu baik adanya dan berguna karena merupakan ciptaan Tuhan juga. Emosi tidak berbicara soal jenisnya seperti sedih, gembira, atau lainnya, tapi tentang kadar pengekspresiannya. Sehingga emosi dibagi menjadi dua, yaitu emosi positif dan negatif.

1. Emosi Positif
Pada umumnya semua emosi dikatakan positif karena memang itu memiliki manfaat untuk kita tapi jika pada kadar yang pas. Pandangan kita selama ini misalnya jika ekspresi marah itu adalah sesuatu yang negatif. Tapi, dapat dilihat contohnya bahwa Tuhan Yesus juga pernah marah yaitu saat Bait Suci yang dijadikan sebagai tempat berdagang (Matius 21:12-14, Markus 10:13-16). Marahnya Tuhan Yesus tidak menjadi dosa karena marah-Nya tidak berkelanjutan dan selesai pada saat masalah selesai, yaitu setelah orang-orang tidak lagi berjualan di Bait Allah.

2. Emosi Negatif
Dikatakan emosi negatif saat kita bereaksi tidak objektif terhadap kondisi, peristiwa, dan hubungan yang terus menerus menguasai kita sebagai reaksi tidak kudus. Contohnya yaitu saat Saul yang marah, sebal, dan juga dengki terhadap Daud yang selalu mendapat kemenangan dan diberkati oleh Allah (1 Samuel 18:6-10). Sikap Saul yang tidak menyelesaikan masalah malah menjadikan dirinya memberi kesempatan ke emosi negatif lainnya sampai-sampai ia memiliki pikiran untuk berbuat jahat pada Daud. Dari 1 Samuel 18:6-10 kita belajar bahwa roh jahat menguasai kita dimulai dari kita membiarkan emosi negatif tadi semakin berkembang bukan memutusnya.

a. Sumber emosi negatif

  • Kebutuhan yang tidak terpenuhi -> menimbulkan luka
    – Apa kata Allah? Matius 6:25-34. Jadikanlah Tuhan satu-satunya pusat dalam hidup kita, maka Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita.
  • Sanksi dari norma/hukum/agama
    – Pendisiplinan memang baik, tapi seringkali reaksi yang muncul negatif.
    – Apa kata Allah? Roma 5:8
  • Diturunkan dari orangtua
    – Orangtua dengan emosi negatif menurunkannya kepada anak-anaknya dengan pola yang sama.
    – Ingat bahwa orangtua Anda menerima kebiasaan emosi negatif tersebut dari orangtuanya pula. Jadi putuskan rantai kebiasaan emosi negatif tersebut dimulai dari Anda!

b. Akibat emosi negatif

  • Terbelenggu dalam penderitaan
    – Luka yang dibiarkan akan menjadi borok (semakin buruk).
    – Luka yang dipendam menjadikan kita sulit menjalin hubungan dengan Tuhan yang mengakibatkan tidak ada pertumbuhan rohani.
  • Menghambat kasih karunia Allah untuk menyembuhkan
    – Tuhan bukannya tidak mau mengampuni, Ia sangat rindu untuk menyembuhkan kita, tapi kitalah yang tidak mau memberi diri untuk disembuhkan, kita membelenggu diri kita. (Mat 6:15)

Emosi negatif seringkali menimbulkan PAHIT HATI.
Ada kondisi yang bisa kita kontrol dan tidak bisa kita kontrol. Pastinya kita akan selalu bertemu dengan orang dan keadaan yang berbeda setiap hari dimana seseorang pastinya tak akan luput dari kesalahan dan kita tidak bisa menghindari setiap keadaan. Kita bisa saja terluka lewat berbagai macam keadaan.

Luka atau benih kepahitan bila terus dipendam, bahkan dipupuk, akan tumbuh menjadi akar pahit. Akar pahit ini menular dan menimbulkan kerusuhan/kekacauan (Ibrani 12:15). Kita tidak bisa mengontrol bagaimana itu akan terjadi. Namun, kita bisa mengontrol keputusan kita.

Apakah kita akan menyimpan luka dan tinggal dalam keadaan pahit? Atau sebaliknya kita akan melepaskan kepahitan & masuk dalam rencana Allah yang manis? Pilihan ada di tangan kita.

Apa yang harus kita lakukan agar emosi kita tetap sehat?
1. Give me the clues -> Kita meminta pertolongan Tuhan untuk menunjukkan perasaan yang sebenarnya, apa yang menjadi akarnya.

2. Release forgiveness -> Bukan sekedar memaafkan dan melupakan begitu saja. Mau melepas semua perasaan dan pikiran untuk marah dan balas dendam.

3. Heal me, o Lord -> Kita minta bantuan Tuhan untuk menyembuhkan setiap luka yang kita alami dan menggantikannya dengan damai sejahtera.

Matius 11:28-30 – Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

Mari setiap kita datang kepada Tuhan dan menyerahkan semua luka hati, sakit hati, kepahitan, masa lalu kita kepada Tuhan dan izinkan Tuhan menyembuhkan dan memulihkan kita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *