Komitmen dalam Pemuridan

Resume Khotbah

Komitmen dalam Pemuridan
Bpk. Alex Mamesa
26 Januari 2018

Setiap orang untuk saat ini pasti sudah pernah membuat komitmen dalam kehidupannya. Komitmen merupakan sesuatu yang sangat penting karena kita perlu agar dapat mewujudkan apa yang kita ingin capai dalam kehidupan. Komitmen akan menjadi dasar kita menetapkan apa yang menjadi tujuan hidup kita, apa sebenarnya maksud keberadaan hidup kita di dunia ini. Tanpa suatu komitmen, kita akan terlena dalam satu keadaaan tanpa ada pengubahan yang diperoleh. Misalnya dalam pelayanan, tanpa komitmen yang jelas kita hanya akan tenggelam dalam pelayanan tanpa ada arti dan manfaat tersendiri yang dapat dirasakan.

Yakobus 4:14 mengatakan, hidup manusia sama halnya dengan uap air yang hanya kelihatan sebentar dan akan kembai lenyap. Mendukung pernyataan tersebut kita dapat melihat ahwa setiap manusia hanya hidup sementara di dunia ini. Ibarat seorang pengunjung, tidak ada jaminan bahwa kita akan hidup selamanya melainkan ada batasan yang berlaku di dalamnya. Dalam hal ini misalnya umur seseorang. Tidak ada satupun yang akan hidup selamanya.

Dalam Alkitab ada diperlihatkan apa yang sebenarnya Allah inginkan dari manusia itu sendiri. Pertama, menurut Yesaya 43:7 disebutkan bahwa manusia itu sendiri diciptakan dengan tujuan untuk kemuliaaan Allah itu sendiri. Allah tidak menciptakan manusia untuk mencelakakan manusia itu sendiri melainkan memberi keselamatan abadi bagi mereka yang mau mengikut-Nya. Berikutnya dalam Matius 28:19, disebutkan bahwa cara kita dapat menunjukkan kemuliaan-Nya adalah dengan pemuridan.

Pemuridan diawali dengan status kita menjadi seorang murid. Murid yang memang taat pada apa yang telah diajarkan. Dalam konteks ini, kita akan menjadi seorang murid Kristus. Ada tiga tanda seorang murid Kristus, yaitu:

  1. Menyangkal diri

Wujud dari menyangkal diri dapat melalui kita keluar dari zona nyaman kita dan meninggalkan kesenangan pribadi. Kita tidak lagi mengutamakan kepentingan pribadi melainkan yang bersama adalah yang terutama. Misalkan dalam pergualan di kampus, seringkali kita bergaul hanya dengan sesama (suku, agama, atau lainnya). Padahal, Tuhan mau agar kita saling berbaur dan membantu satu sama lain tanpa membedakan satu sama lain.

  1. Memikul salib

Memikul diartikan sebagai aktif dalam tanggung jawab sebagai pengikut Kristus. Aktif berarti mau menjalankan tanggung jawab tersebut tanpa ada paksaan.

  1. Mengikut Kristus

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang murid haruslah hanya berfokus pada Kristus. Artinya tidak menyimpang dari ajaran Kristus baik dalam perkataan, pikiran, maupun perilkakunya.

Yohanes 12:24 mengatakan bahwa biji tidak akan tumbuh kalau belum mati terlebih dahulu. Sama halnya ntuk menjadi seorang murid dibutuhkan sebuah proses tentunya. Bukan sebuah proses yang mudah dan instan, melainkan dibutuhkan pengorbanan di dalamnya. Layaknya sebuah kupu-kupu, awal hidupnya harus dimulai dari telur menjadi ulat kemudian pupa dan akhirnya menjadi kupu-kupu. Untuk itu, untuk mendapatkan sebuah buah dari komitmen itu dibutuhkan kerja keras dan pengorbanan baik waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi sekalipun.

Setelah menjadi seorang murid, pastilah kita akan memuridkan orang lain juga guna menjalankan perintah Yesus untuk menjadikan semua menjadi murid-Nya. Dalam Yohanes 6:60-66, dikatakan bahwa Yesus tidak mencari simpatisan dalam pemuridan ini. Ini berbicara bagi pemurid, bahwa janganlah juga langsung kecewa dan menyerah jika anak murid-Nya (adik PA) tidak mau lagi diajak untuk pendalaman alkitab. Namun seharusnya ia tetap menjalin hubungan yang harmonis dan berusaha mengajaknya misalnya lewat bentuk tindakan yang berbeda.

Dengan demikian, kita akan membuktikan kualitas yang sebenarnya. Karena Tuhan mencari bukan untuk kuantitas semata, melainkan kualitas adalah yang terutama. Tidak perlu banyak tapi kualitasnya hanya setengah-setengah, tapi sedikit tapi berkualitas tinggi adalah yang dicari. Dan itu akan tercapai jika komitmen tadi memang sungguh-sungguh dan dijalankan. Namun, jangan biarkan komitmen tersebut membuat kita menjadi seorang yang eksklusif, seorang yang dianggap aneh bagi orang lain. Karena Yesus sendiri, yang menjadi teladan kita, bergaul dengan semua orang. Ia memberi pengaruh dan mau menjalin relasi dengan lingkungannya.

Sebagai contoh ada Yusuf, dimana semasa hidupnya dulu ia mengalami intimidasi dari saudara-saudaranya. Ia difitnah bahkan dimasukkan ke dalam penjara. Namun, ia tetap dalam pendiriannya, dlaam komitennya dan pada akhirnya meskipun itu sulit, ia merasakan kebahagiaan sebagai jawaban atas komitmen tersebut. Itu akan menjadi hasil yang memuaskan dari komitmen tersebut. Dalam Ulangan 28:13, Allah menjanjikan akan mengangkat kita menadi kepala bukan ekor. Ia akan menjadikan kita menjadi pemimpin dan kesalamatan dalam hidup ini.

Seringkali Allah berbicara dan membantu kita lewat dua hal yaitu pergumulan yang kita alami dan pergaulan kita sehari-hari. Kita dihadapkan pada masalah dan juga pada sebuah keputusan untuk hidup kita. Tapi, jangan langsung menyerah dan tetaplah pada komitmen karena ada harga yang harus dibayar untuk sebuah buah yang harum. Sedangkan Iblis itu sendiri akan selalu mencari cela lewat permasalahan tadi dan juga kekudusan kita sendiri. Dan pastikan si Iblis tidak akan mendapatkan waktu dan kesempatan untuk kesenangannya tersebut. Jadi berani dalam menyatakan iman.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *