Intim dalam Tuhan

Resume Khotbah

Hubungan Pribadi dengan Tuhan
Bpk. Alamta Singarimbun
19 Januari 2018

Yohanes 1:12 mengatakan setiap orang yang percaya kepada Yesus sudah diangkat menjadi anak-anak Allah. Maka hal yang perlu kita dalami adalah mengeratkan hubungan itu yaitu dekat dengan Allah, intim dengan Allah. Hal ini ibarat hubungan kita di rumah dengan orangtua. Apakah kita bebas menyampaikan pikiran dan hati kita kepada orangtua? Apakah anak tahu apa tujuan orangtua yang diinginkan terjadi bagi anak? Banyak keluarga yang rusak, broken home, alasannya adalah sama, bukan karena ekonomi tetapi karena tidak adanya hubungan yang akrab. Demikianlah juga kita. Keakraban dengan Tuhan membuat kita merasa aman dan tenteram.

Selain itu, Allah juga memiliki tujuan bagi kita yakni agar kita serupa dengan Dia. Hal ini seperti ketika saudara memiliki sahabat yang dekat sekali. Ketika saudara tidak suka suatu makanan, tetapi karena makan dengan sahabat anda itu, anda mulai suka akhirnya dengan makanan itu setelah terpaksa untuk memakannya. Akrab akan membawa pengaruh kepada seorang, membuatnya berubah. Demikianlah kita seharusnya akrab dan intim dengan Allah. Agar kita boleh diubahkan menjadi serupa dengan Allah.

Karena ini merupakan hal yang sangat luas, maka artinya HPDT ini bukan hanya berupa saat teduh dan doa kita kepada Allah. Terkadang kita merasa berdosa ketika tidak berdoa dan lupa baca Firman. Itu baik, tetapi itu bukanlah intinya, melainkan ketika hubungan itu membawa perubahan di segala aspek kehidupan kepada kita karena kita intim dan menyerahkan seluruhnya kepada Allah.

Maka dari itu kita selayaknya seperti Daud yang haus dan rindu kepada Allah. Ketika kita haus, maka kita mencari minum, ketika kita rindu kita ingin untuk bertemu. Ada inisiatif ketika ada kerinduan yang akhirnya membuat kita berupaya dan berusaha. Apakah kita demikian kepada Allah? Banyak contoh yang telah diberikan di Alkitab seperti Musa, Daud, Daniel, Abraham dan banyak lagi. Sebenarnya mereka dengan kita adalah sama, pernah berdosa, manusia yang masih bisa melakukan kesalahan. Tetapi ada satu benang merah yang membuat mereka menjadi seorang tokoh yang luar biasa. Mereka memiliki hubungan yang intim dengan Allah. Maka dari itu kita tidak hanya cukup mengatakan kita sudah menerima Allah. Kita rugi ketika berhenti sampai disitu. Kita seharusnya memiliki rencana Allah itu, menjadi serupa dengan Dia dan dipakai oleh-Nya untuk melanjutkan rantai kasih Allah yang sungguh luar biasa.

Intim itu ibarat kita yang baru pulang tahun-baruan ke kampung. Yang pertama kita cari adalah orang yang dulu dekat dengan kita ketika berada disana. Saat jumpa kita akan merangkul dia dan banyak bercerita dengan bahagia dan senang. Kita akan berusaha untuk mengadakan reuni dan merasakan hubungan yang akrab. Dan disana ada rasa kekuatan yang mengalir dari hubungan itu yang membuat kita merasa nyaman dan bahagia. Demikianlah seharusnya kita berhubungan intim dengan Tuhan. Sebaliknya ketika kita tidak akrab maka kita akan segan dan bahkan takut ketika berada dekat dengan teman kita. Ibarat ketika datang ke acara makan bersama, maka kita akan memilih duduk di dekat teman yang dekat dengan kita. Akrab itu penting. Maka benar kita sangat rugi ketika kita melupakan dan mengabaikan ini.

Tetapi pertanyaannya, mengapa kita bisa tidak akrab dengan Tuhan? Ada dosa. Ketika kita masih ada hubungan dengan dosa, maka kita akan sulit untuk menyentuh Allah yang kudus. Kita ditipu oleh rasa bersalah sehingga kita jauh dan semakin jauh dari Allah. Padahal, Allah itu adalah Allah yang maha pengampun yang adil. Berikut adalah kesaksian beberapa saudara kita tentang hubungan pribadi yang mereka alami bersama Tuhan.

Christofel (FMIPA 2017): Dahulu saya sangat dekat dengan Allah, sekarang saya berusaha untuk mengembalikan hubungan itu. Saya dulu merasa Tuhan sangat dekat, Tuhan berada di samping kiri, kanan, depan dan belakang. Namun keadaan dan situasi membuat saya semakin susah bergerak bersama Allah. Saya mengalami banyak godaan dan saya jatuh ke dalamnya. Hal ini membuat saya sungkan untuk bertemu dengan Allah. Mulai mengabaikan-Nya. Padahal sebetulnya bersama dengan Tuhan tidaklah merupakan tuntutan dan beban sehingga ketika kita jauh dari Tuhan kita merasa berdosa. Melainkan berada dekat dengan Tuhan adalah anugerah, kita seharusnya otomatis dan merasa itu sebuah hiburan untuk tempat kita dipulihkan.

Emia (Teknik Material 2015): HPDT itu bukan kewajiban, kerinduan bersekutu dengan Allah itu natural. HPDT itu berarti menjadikan Tuhan sebagai sahabat kita. HPDT harus kita rasakan, karena hidup kita hanya sekali dan itu adalah kasih karunia dari pencipta kita. Sangat disayangkan ketika kita tidak merasa rindu untuk merasakan hubungan yang spesial itu. Hubungan yang intim antara ciptaan dan sang Maha Pencipta.

Markus 1:35 berkata, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Yesus sendiri yang saat itu terikat dengan kedagingan sangat rindu untuk datang bersekutu dengan Allah. Apalagi kita yang bukanlah Allah seperti Dia. Kita harus menjadikan Yesus sebagai teladan kita. Tidak harus mengikuti ‘pagi’nya, walaupun itu baik, tetapi yang terpenting ialah kita harus rindu untuk bertemu dan menyerahkan hidup kita kepada Tuhan.

Kesaksian Pak Alamta: Saya saat ini bangun otomatis pukul 4, membaca Alkitab secara spontan dan membagikan apa yang saya dapatkan pagi itu. Harapannya bukan untuk orang baca dan terberkati saja, tetapi bisa untuk mengingatkan mereka untuk juga memiliki hubungan dengan Tuhan, maupun untuk bahan diskusi menguatkan satu sama lain.

Dalam Filipi 3:10, Paulus juga telah bersaksi kepada kita, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”. Ketika kita akrab dengan Tuhan hal inilah yang akan terjadi dengan kita. Sejauh akrab apa kita, hanya kita yang tahu dan diri kita yang bisa menyadarinya. Tetapi satu yang umum, kita harus memiliki hubungan itu dengan Tuhan. Mintalah hubungan yang akrab dengan Tuhan. Marilah kita intim dengan Tuhan karena kekuatan kita ada dalam itu.

Akrab dengan Tuhan bukan karena dipaksa atau kewajiban,tetapi adalah kerinduan untuk mengenal Allah.
– Alamta Singarimbun

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *