Edge of Tomorrow: Asyiknya Ketidakpastian

Jumat malam kemarin saya berkesempatan menonton film bersama dengan teman dan adik-adik kelas. Setelah seharian mengikuti acara seharian lalu berfoto bersama dengan teman-teman, saya memutuskan untuk mengikuti ajakan seorang adik untuk menonton film. Meskipun badan agak lelah, namun rasanya tidak salah untuk sesaat menghibur diri setelah hampir delapan bulan fokus mengerjakan Tugas Akhir.

Ketidakpastian memang merisaukan. Saya pun mengalaminya. Tapi kalau dipikir, ketidakpastian tentang hari depan ada faedahnya. Justru karena ketidakpastian itu, maka hari ini saya bekerja keras menyiapkan diri untuk hari esok. Kalau sudah tahu hari depan mungkin saya akan menjadi pasif. Saya mungkin tenang-tenang saja. Tapi karena saya tidak tahu, saya harus melakukan segala sesuatu untuk mempersiapkan diri, semaksimal mungkin.

Tiba di Bandung Indah Plaza (BIP) sekitar pukul 18.45, kami kemudian berkumpul di Food Court di depan bioskop. Tiket film juga sudah dibeli terlebih dahulu. Malam ini kami akan menonton film Edge of  Tomorrow.

Edge of Tomorrow

Edge of Tommorow
Edge of Tomorrow

Manusia dikisahkan sedang berperang melawan Mimic, alien yang datang ke bumi. Militer NATO membentuk federasi United Defense Forces (UDF) untuk mengatur peperangan di Eropa. Sebelumnya, pengenalan eksoskeleton telah memberikan UDF kemenangan atas Mimic di Verdun. Mayor William Cage (Tom Cruise), juru bicara UDF dan perwira di Angkatan Darat Amerika Serikat, dipanggil ke London untuk bertemu dengan Jenderal Brigham, komandan UDF. Terinspirasi oleh kemenangan di Verdun, UDF bermaksud untuk meluncurkan Operasi Downfall, invasi besar-besaran melawan Mimic di garis pantai Perancis. Cage menolak untuk bergabung dengan pasukan garda depan itu, akhirnya ia ditangkap dan dilucuti pangkatnya. Cage lalu dikirim ke pangkalan di Bandara Heathrow, Inggris. Inilah awal mula kisah ini.

Keesokan paginya, Cage bersama dengan ratusan ribu pasukan memulai serangan besar-besaran di pantai Perancis. Ternyata Mimic telah mengantisipasi serangan itu. Banyak pasukan yang terluka dan mati. Serangan gagal total. Pada kondisi terdesak, Cage berhasil membunuh salah satu Mimic dan mati tersiram darahnya. Cage kemudian terbangun di pagi sebelumnya di Heathrow, dengan posisi dan kondisi yang sama. Cage sadar bahwa ia terjebak dalam lingkaran waktu, di mana setiap kali ia mati, ia me-reset waktu dan kembali ke hari sebelum invasi.

Waktu terus bergulir maju dengan cara yang sama, kemudian waktu kembali mundur setiap Cage mati. Plot waktu yang maju mundur membuat saya sedikit bingung dengan alur maju-mundur. Setelah beberapa kali mati dan hidup, Cage akhirnya mengetahui kalau Mimic yang ia bunuh adalah Alpha. Ketika Cage disiram oleh darah Alpha, ia mendapatkan kemampuan untuk me-“reset” waktu. Namun, untuk mengalahkan semua Mimic, Cage harus menghancurkan Omega.Omega sendiri adalah otak atau pengendali dari semua Mimic yang ada di dunia. Lokasi Omega Cage dapatkan melalui visi pada momen-momen tertentu.

Bersama dengan Rita (Emily Blunt), mereka terus berupaya menemukan langkah selanjutnya. Mulai dari latihan berperang, kabur dari pantai, hingga memilih mobil menuju Bendungan di Pegunungan Alpen. Semuanya dilalui hingga ratusan bahkan ribuan pengulangan. Setiap kali gagal, Cage harus memastikan dirinya mati agar kemampuannya tidak hilang. Akhirnya mereka sampai pada titik bahwa mereka harus menuju Whitehall dan meminta Jenderal Bringham memberikan alat transponder yang telah diciptakan. Alat ini dapat memastikan lokasi Omega jika disuntikkan ke dalam Alpha atau seseorang dengan kemampuan me-reset waktu seperti Cage.

Melarikan diri dari Whitehall, Rita menusuk Cage dengan transponder, dan akhirnya mereka mengetahui bahwa Omega terletak di bawah Louvre. Namun kecelakaan telah membuat kemampuan Cage hilang, karena ia harus menerima transfusi darah seperti yang dialami Rita dahulu. Sadar bahwa tidak ada kesempatan me-reset lagi, mereka memutuskan untuk mencoba dan membunuh Omega pada malam sebelum penyerangan. Untuk melakukannya, Cage meyakinkan tentara dari unit J untuk bergabung dengan mereka. Tiga jam sebelum penyerbuan, mereka terbang ke Paris. Namun, pertahanan Mimic memaksa satu persatu anggota tim mati mengorbankan diri. Rita dan Cage akhirnya tiba di bawah Louvre tempat di mana Omega berada. Ternyata ada Alpha juga di tempat itu. Rita mengorbankan diri untuk mengalihkan perhatian Alpha, supaya Cage bisa membunuh Omega. Meskipun Alpha berhasil membunuh Cage, namun granat sudah dilepaskan untuk menghancurkan Omega. Omega pun hancur, dan Mimic berhasil dikalahkan.

Kisah ini kemudian mundur ke  waktu saat Cage bangun dalam perjalanan ke pertemuan dengan Brigham. Namun kondisi sudah berubah, kali ini ia menghadiri konferensi pers di mana Brigham mengumumkan bahwa Mimic sudah dikalahkan.

Asyiknya Ketidakpastian

Film berdurasi sekitar 100 menit itu telah selesai, dan para penonton mulai keluar dari ruangan. Saya masih duduk dan merenung sejenak. Merenungkan mengenai hari esok. Hari esok yang selalu menjadi misteri: menakutkan namun layaknya sebuah film, kita semua selalu menunggu hari esok. Kami juga sempat berdiskusi mengenai film tersebut. Ada asyiknya: kita bisa tahu apa yang terjadi di masa depan dan mengulangi hari ini hingga memperoleh masa depan yang sesuai dengan keinginan kita. Selesai ujian dan tidak bisa mengerjakan? Tembak diri sendiri, kemudian belajar giat di hari sebelumnya. Wah menyenangkan bukan?

Namun banyak tidak asyiknya: hidup jadi membosankan. Bayangkan kalau kita mengalami hal yang sama puluhan bahkan ratusan kali. Pasti sangat membosankan. Tidak menarik lagi. Tidak memacu adrenalin hidup, kata orang-orang yang suka akan tantangan.

Hari depan memang merisaukan, tapi juga mengasyikkan. Kehidupan yang tidak saya ketahui habisnya. Kehidupan yang pasti sulit namun tetap menarik untuk ditunggu dan dialami bukan? Banyak yang berpendapat bahwa hidup di masa depan akan semakin sulit: harga barang-barang yang terus naik, pengangguran, kejahatan semakin merajalela, dan korupsi yang membuat kita tidak habis pikir lagi. Saya pun juga tidak akan menyangkalnya.

Namun, jika saya boleh kembali ke masa empat tahun yang lalu, Juni 2010. Pikiran yang sama juga menggelayut setelah saya dinyatakan masuk ke ITB. Apakah saya bisa? Hidup jauh dari orangtua? Mengikuti perkuliahan di salah satu kampus terbaik? Bersosialisasi dengan orang-orang baru? Bagaimana kalau tersesat? Pikiran saya kosong. Gambaran di kepala saya hampa. Tidak banyak yang saya ketahui. Mungkin hanya sebagian kecil informasi yang didapat dari internet dan para senior. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi hari depan atau di ujung jalan, tapi saya yakin sejak sekarang saya mulai dapat berusaha “mewarnainya”.

Dan kini setelah empat tahun di Bandung, saya merasa sudah terbiasa dengan kehidupan di sini. Saya sudah memiliki banyak teman bahkan bepergian hampir ke seluruh tempat di Bandung. Selain itu, saya juga sudah bisa memahami seluruh mata kuliah dan menyelesaikan Tugas Akhir dengan baik. Begitu juga dengan pelayanan di kampus, semuanya berjalan lancar dan baik. Saya sudah bisa melayani di multimedia dan proyektor, menulis, dan mendesain. Juga aktif dalam acara-acara gereja dan lembaga pelayanan mahasiswa. Semuanya hanya karena kasih karunia Tuhan saja.

Ketidakpastian nyatanya mengijinkan saya (juga Anda) untuk mengembangkan hidup semaksimal mungkin. Berusaha dan berjuang sekuat yang kita bisa. Belajar dengan sungguh-sungguh dan mempersiapkan kuis, ujian, dan laporan. Membagi waktu antara kesibukan perkuliahan dan luar kampus. Mewarnai kehidupan dengan ilmu danpengalaman baru. Sungguh menyenangkan!

(dcs, diambil dari http://www.danielnugroho.com/life/edge-tomorrow-asyiknya-ketidakpastian/)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *