Half-Time

Prit…Prit…Prit!

Tuhan Yesus, Sang Wasit Yang Agung sudah meniupkan peluit tanda berakhirnya masa satu semester ini. “Huh, akhirnya, selesai juga nih semester…”, menjadi trending topic buat sebagian besar mahasiswa di kampus ini. Perjuangan selama satu semester yang lumayan berat itu akhirnya dapat dituntaskan dengan senyum sumringah di wajah, apalagi saat melihat wajah dua orang sahabat yang tetap tersenyum meskipun sedang mengerjakan laporannya.

Sudah separuh jalan rupanya perjalananku, dan kembali lagi paradoks muncul dalam hidupku. Waktu yang berlalu begitu cepat dalam menempuh dua tahun masaku di kampus. Waktu yang terasa lama juga ketika melihat banyaknya peluh dan perasaan yang telah kucurahkan selama berkuliah di sini. Babak pertama ternyata sudah berakhir. Aku sekarang akan beristirahat sejenak untuk menempuh setengah babak berikutnya.

Memulai perkuliahan ini dari titik nol—mengenal Kalkulus, Fisika, dan Kimia, mengenal tempat-tempat di kampus tercinta, mengenal semua unit, himpunan, dan kegiatan di kampus, bahkan mengenal teman dan sahabat—sempat membuat diriku begitu kelelahan. Satu yang kupercaya waktu itu, Tuhan ingin membentukku melalui masa perkuliahan ini. Tuhan ingin memperbesar kapasitasku. Masak hanya mencari tahu dan belajar aja, aku udah ogah-ogahan, bagaimana menghadapi masalah yang jauh lebih besar?

Waktu benar-benar berlalu begitu cepat, teman, masih jelas dalam pikiranku saat dulu masih daftar ulang di Sabuga, pulangnya aku mencari indekos di daerah Tubagus Ismail. Aku mengikuti OSKM yang ditutup dengan OHU. Waktu itu kami juga berfoto bersama satu kelompok. Hari pertama berkuliah, banyak orang yang masuk kelas menawari buku-buku. Orang-orang masih kaku semua, ada perasaan segan waktu itu untuk berkenalan. Seiring berjalannya waktu, aku punya banyak kesempatan untuk belajar dan membuka wawasanku jauh lebih luas termasuk memahami karakter orang lain.

Mengenal PMK ITB adalah sebuah berkat tak ternilai di dalam kehidupanku. Banyak hal yang dapat aku pelajari dari semua kegiatan PMK ITB. Aku belajar soal integritas, soal hikmat dan pengertian, soal kasih, aku belajar soal pelayanan, dan yang terakhir mengenai visi hidup. PMK ITB telah membukakan mataku mengenai visi hidup yang begitu kerdil dalam pikiranku. Aku begitu bersyukur ketika itu mamaku bilang, “Nanti ambil pelayanan ya, Mang, kayaknya di PMK gapapa, jadi ada yang jagain kamu.”

Aku terkekeh saat itu. Jagain? Apa coba yang dijagain? Tetapi aku mengerti sekarang, secara tidak langsung, turut serta di dalam PMK ITB telah mencegahku dari kebiasaan-kebiasaan buruk, main berlebihan, merokok, dan segala sesuatu yang buruk lah. Mereka menjagai aku, bahkan memberikan aku kesempatan untuk bertumbuh di dalam wadah pemuridan. Jadi, di detik aku menuliskan ini dan melihat ke belakang sejenak, aku merasa begitu bersyukur kepada Tuhan.

Kemudian aku lulus dari TPB dengan nilai yang cukup memuaskan, dan masuk ke jurusan pilihan pertamaku, Teknik Elektro. Di tahun kedua, semakin banyak kesibukan yang menghimpit jiwaku. Ada osjur dan himpunan, ada kegiatan unit, ada kegiatan di LP, dan juga kegiatan di PMK. Wah, pokoknya, waktu itu kehidupanku sempat terguncang lah. Aku sempat kelabakan memilah-milah kesibukanku. Nilai-nilai kemudian menunjukkan gradien negatif yang sempat membuat mamaku kecewa.

Semester keempat ini, aku jauh lebih kuat dan berani. Kuat ini artinya jam tidur yang semakin berkurang, biasanya hanya 3-5 jam sehari buat belajar dan buat laporan. Terus seperti yang pernah kuutarakan ke Sion, utang tidur ini harus dilunasi di hari-hari libur. Aku jauh lebih berani untuk menolak mengikuti kegiatan-kegiatan tertentu yang aku rasakan tidak membangun diriku pada saat itu. Saat-saat itu aku merasakan bahwa banyak orang yang menjauh dariku. Mereka kecewa mungkin ketika aku memutuskan menjadi “tidak aktif” dalam beberapa waktu. Satu yang kupegang saat itu ada quotes, “I don’t know how to be success, but I will failed if I try to make everyone happy.” Intinya, aku harus berani memilih dari sekian banyak pilihan, meskipun itu membuat orang menjadi tidak senang.

Di semester keempat ini juga aku menjadi pengurus di PMK ITB. Dengan berbagai latar belakang kesibukan di tempat lain membuatku harus semakin jitu dalam memilih prioritas. Kapan saatnya belajar, main, jalan-jalan, organisasi, dan sebagainya. Satu yang waktu itu selalu kupegang, adalah waktu-waktu saat teduhku. Aku selalu berusaha menjaga hubungan pribadi dengan Tuhan, dan beryukur, Ia adalah Allah yang setia dan adil. Ia seperti membisikkan padaku, segala hal yang harus kulakukan dalam sehari bahkan hingga urutan-urutannya. Luar biasa bukan? Semua berjalan dengan lancar, studiku juga membaik. Aku punya banyak kesempatan untuk mengenal banyak orang juga. Bahkan terakhir, Tuhan mulai mengajarku untuk bisa berbagi hidup dengan mendengarkan keluh kesah orang lain. Tuhan juga memberikan kesempatan bagiku untuk mendoakan orang-orang lain.

Perubahan yang luar biasa lah pokoknya. Keluargaku juga merasakan hal yang sama. Aku bisa membawa banyak nilai-nilai kehidupan kepada saudara-saudaraku. Bahkan, Tuhan mengijinkan aku secara untuk mempersatukan keluarga besar papa dan mama. Hebat bukan? Haha, benar-benar, aku gak boleh legowo. Semuanya ini adalah karena kasih karunia Tuhan Yesus semata. Ia adalah Allah yang luar biasa. Ia mengerti keadaan aku dan Anda. Asalkan kita tetap berserah penuh pada-Nya dan mengandalkan Dia setiap waktu, rasa-rasanya hidup berkemenangan setiap hari akan terus kita rasakan.

Di half-time ini aku diberi kesempatan untuk merenung sejenak tentang semua hal yang telah aku lalui. Babak kedua akan semakin sulit, musuh semakin mengerti kelemahan kita. Langit juga terlihat mulai mendung dan akan turun hujan. Pertandingan pasti makin berat, bisa-bisa aku kepayahan nanti. Tetapi kemenangan yang aku punya sekarang harus tetap bisa kupertahankan. Aku ingin sekali mencapai garis akhir dengan tetap setia dan luar biasa di dalam studi dan pelayanan.

Ya, itulah harapanku. Tuhan tahu persis, makanya ia membisikkan lagi, “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri,supaya engkau beruntung [sukses di dalam Tuhan] ke mana pun engkau pergi.”

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Tim. 4:7)

Libur telah tiba! Libur telah tiba! Hore! Hore! Hore! Hore!

 

Persiapkan diri kita semua yah, jalan di depan semakin terjal rasa-rasanya.

Tetap jaga hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus selama liburan ini, sekalian aja ajak papa dan mama buat berdoa bersama. Sampai bertemu di semester depan!  

Jesus bless you all abudantly! (dcs)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *