Yang Ditemukan di Hati Janda Miskin

Di suatu hari terdapat banyak orang hendak memberikan persembahan di sebuah rumah ibadah. Mereka berasal dari latar belakang dan status sosial yang berbeda. Di tengah peristiwa tersebut, ada seorang Sosok yang mengamati bagaimana orang banyak memasukkan uang mereka ke peti persembahan. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Melihat ini, Sosok tersebut memanggil murid-murid-Nya dan mengatakan bahwa sesungguhnya janda itu memberikan lebih banyak dari semua orang yang memasukkan uang ke peti persembahan itu. Sebab mereka memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.

Bagaimana bisa dua peser bisa mengalahkan persembahan si orang kaya yang dikatakan banyak jumlahnya? Tuhan Yesus tidak tahu berhitung, sepertinya. Mungkin ini lah pertanyaan yang menggelitik kita.

Ternyata, berbicara soal persembahan, berikutnya izinkan saya utarakan dalam tiga poin. Pertama persembahan adalah hal spiritual. Hal yang spiritual tidaklah dapat diukur dari materi. Contohnya tidaklah dapat mengukur bagaimana disiplin doa jemaat dari berapa jumlah orang yang mengikuti Persekutuan Doa, dan lain sebagainya. Jadi persembahan bukanlah berbicara soal materi (kuantitas) tetapi spritualitas (kualitas). Seperti halnya si janda dengan orang kaya, tidaklah dapat mengukur persembahan mereka dari jumlahnya saja, tetapi dari spiritualitas, motivasi di balik persembahan. Inilah yang Yesus amati kala itu, dan pula saat-saat skarang ini.

Kedua, persembahan adalah totalitas atas keseluruhan hidup—kestabilan, kekuatiran, kegentaran, ketakutan, seluruhnya. Perempuan janda ini dikatakan menyerahkan seluruh nafkahnya, skali lagi bukan dalam arti ukuran materi, tetapi merupakan sikap totalitas. Memberi dan menyerahkan dua peser itu sekaligus memberi dan menyerahkan segala-galanya, kekuatirannya, kegentarannya. Ia memberi apa yang mampu ia relakan bukan merelakan apa yang mampu ia beri.

Ketiga, persembahan adalah sebagai tindakan penyembahan/tanda hormat, bukan karena posisi pemberi lebih tinggi dari penerima. Buku sejarah ataupun pilem yang menyangkut kerajaan berkisah mengenai persembahan rakyat/panglima atau bahkan raja kepada seorang raja adalah menunjukkan sikap penghormatan mereka. Istilah pasarannya adalah upeti. Dan apa alasan mereka memberi itu selain dari rasa hormat dan taat? Pun demikian adanya saat orang-orang mempersembahkan sebuah lagu kepada orang yang lain yang kala itu mereka hormati / dianggap penting (misal dalam acara pernikahan, syukuran, dllnya).

Tiga poin inilah yang ditemukan dalam hati janda miskin tersebut. Adakah yang tiga hal di atas ditemukan di hati kita kala kita memberi persembahan ataupun memberi apapun kepada sesama?

Saya punya sebuah cerita yang juga saya dengar saat kotbah ini dibahas di gereja di mana saya beribadah. Ada seorang anak kecil yang memiliki es krim yang sangat enak. Papanya tahu es krim itu sangat enak. Dia pun meminta kepada anaknya. Es krim tersebut tinggal satu. Apa respon si anak? Bila si anak berkata, “Tidak, Papa, es krim ini kan punyaku, ini enak sekali dan tinggal satu”. Mungkin si Papa sedih dan berkata, “saya tahu itu es krim kamu, makanya saya minta terlebih dahulu, saya tahu itu enak dan saya tahu ada es krim dan makanan lain yang lebih enak dari itu yang bisa saya beli bahkan berikan untuk kamu, dan mengenai itu tinggal satu, tidak tahukah kamu bahwa saya pun sanggup membeli dan memberikan kamu sepuluh es krim lagi”. Ataukah si anak berkata, “ini Pa, es krim nya” . Dia merelakan es krim yang tinggal satu itu, namun mendapati hati Papanya senang dan berkenan.  Tentu pula ada satu hal yang tak boleh disalahmengertikan , motivasi memberi, bukan karena ingin mendapat lebih. Bila demikian adanya, jangan heran bila malah tidak mendapat apa-apa. Berikan yang terbaik pada Tuhanmu!!  🙂

(sebuah renungan dan penceritaan kembali dari khotbah minggu di gereja saya beribadah, GKY Karawaci)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *