Dampak = EP = mgh

“TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.”
Ulangan 28 :13-14

Pernahkah Anda mendengar pepatah “Jadilah kepala, bukan ekor”? Tentu pepatah tersebut tidaklah asing di telinga kita. Banyak orang menginginkan dan bahkan menganjurkan orang lain untuk bertindak sebagai seorang pemimpin. Kepemimpinan saat ini seringkali dikaitkan dengan hal kekuasaan. Dalam kekuasaan versi dunia, konsep dunia tentang “kepala” selalu diartikan sebagai orang yang memiliki kekuasaan sebesar-besarnya, tanpa batas. Kekuasaan bagaikan candu yang menarik orang banyak, sehingga semua orang berambisi untuk berkuasa dan terus memperluas kekuasaannya.

Sayangnya, konsep kekuasaan seperti ini menjadi begitu akrab dan akhirnya masuk ke dalam lembaga-lembaga Kristen. Walaupun dibungkus dengan kata-kata rohani, namun prinsip kekuasaannya masih bersifat duniawi. Karena itulah, sebagai muda-mudi Kristen, kita harus memahami konsep kekuasaan yang benar menurut firman Allah.

Ayat di atas merupakan perkataan Allah melalui Musa kepada bangsa Israel. Intinya, ada 3 konsekuensi penting yang harus dilakukan jika seseorang ingin menjadi pemimpin yang baik di mata Allah. Konsekuensi tersebut antara lain:

1.    Mendengar perintah Tuhan. Jika kita dapat mendengar perintah Tuhan, artinya kita memiliki kerendahan hati untuk mendengar suara Tuhan di tengah kesibukan kita, sehingga mengerti dan mau membuka hati tentang apa yang Tuhan bicarakan.

2.    Melakukan perintah Tuhan dengan setia. Artinya, kita harus memiliki komitmen dan disiplin diri yang kuat agar komitmen kita tetap teguh pada Tuhan.

3.    Tidak menyimpang kanan kiri. Maksudnya, kita harus menghidupi firman Allah dalam kehidupan setiap hari. Biarkanlah hal ini menjadi gaya hidup kita, yang akan membawa kita menjadi seseorang yang berintegritas.

Kita tidak dapat menjadi seorang pemimpin yang baik dalam sekejap. Semua itu pasti butuh proses. Kalau kita dapat melakukan 3 hal yang telah disebutkan diatas, Tuhan pasti mau menjadikan kita sebagai seorang pemimpin. Menjadi pemimpin tidak melulu harus mengerjakan pekerjaan yang berat dan sulit. Bahkan dengan pekerjaan “ekor” pun, jika kita melakukannya dengan hati seorang pemimpin yang setia, kita sudah menjadi “kepala” yang baik. Karena, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dampaknya dapat dirasakan banyak orang, seberapapun kecilnya pekerjaan kita. Siapkah kita menjadi pemimpin yang berdampak?

Tuhan memberkati. 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *