Resume Khotbah 26 September 2014: Interdenominasi

Posted by

POS 260914

Tanggal : 26 September 2014

Pembicara : Tony Hutasoit
Ayat Tema : Efesus 4:1-16

 

Ada apa dengan interdenominasi? Banyak orang berpikir atau berasumsi bahwa kata ini adalah kata “taboo” atau kata yang harus dijauhi orang. Tapi apa sebenarnya makna dari kata ini?

 

Interdenominasi terdiri dari 2 kata, yaitu “inter” yang berarti antar atau lintas, “denominasi” adalah aliran. Interdenominasi diartikan sebagai adanya hubungan, kerjasama (kolaborasi), persekutuan di antara berbagai aliran-aliran di dalam kekristenan yang berkomitmen untuk sama-sama saling berdoa, beribadah, memuji Tuhan, mendengarkan Firman-Nya, bertumbuh dan menjadi dewasa bersama dalam pimpinan Roh Kudus.

 

Banyak orang juga mendengar tentang kata “oikumene”, kata ini diambil dari kata Yunaniοἰκουμένη, yang terdiri dari 2 kata, όικος yang berarti rumah, dan μενήιν yang berarti tinggal atau berdiam. Oikumene diartikansebagai tempat berbagai aliran di dalam kekristenan untuk bersatu padu dalam menyembah dan memuji Tuhan.

 

PMK ITB sendiri adalah sebuah lembaga yang bersifat interdenominasi karena bertugas sebagai tempat bertumbuh, merangkul, dan mencakup jemaat dari berbagai gereja dan aliran, dan mengembalikannya kepada gerejanya masing-masing.

 

Interdenominasi ini bukanlah hal yang salah tetapi alkitabiah, sudah diberi “restu” oleh Tuhan. Kalau begitu, kenapa interdenominasi itu sangat penting?

1. Tuhan telah memberikan karunia yang berbeda-beda kepada para orang percaya (1 Kor 12:4). Kita semua tidak ada yang sama, seperti anak kembar yang tampaknya sama, tetapi tetaplah berbeda. Tetapi dengan adanya perbedaan itu, kita berhak dan boleh menjustifikasi sesame kita yang berbeda? Tuhan pun tidak melakukannya.

2. Tuhan memberikan berbagai bentuk pelayanan atau aliran (denominasi) yang berbeda dalam gereja Tuhan atau LP (1 Kor 12:5). Dalam ayat tersebut tidaklah salah adanya “rupa-rupa pelayanan”, yang penting adalah Tuhannya tetap 1.

3. Tuhan tidak pernah menciptakan gereja, lembaga, pelayanan untuk selalu sama, tetapi harus memiliki ciri khas tersendiri di dalam Kristus untuk saling melengkapi (1 Kor 12:12-14). Walaupun dengan berbagai macam bentuk dalam pelayanan, tetapi itu semua adalah anggota-anggota di dalam 1 tubuh, yaitu tubuh Kristus. Seperti ITB, yang memiliki 12 fakultas, apakah dengan perbedaan fakultas kita menjadi “jambak-jambakan”? Justru dengan perbedaan itu, kita dapat saling mengisi dan melengkapi.

4. Keunikan tersebut bertujuan untuk memotivasi kita untuk saling memperhatikan, mengisi, dll (1 Kor 12:25-26). Dikatakan dalam ayatnya bahwa “jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” Jadi perbedaan tersebut tidak membuat 1 anggota bersaing dengan anggota lainnya, tetapi bersama-sama bertumbuh.

5. Karunia-karunia, keunikan di dalam gereja dan pelayanan harus tetap mempersatukan kita di dalam Kristus (Efesus 4:1-16).  

 

Setelah tahu betapa pentingnya interdenominasi, apa syarat dari interdenominasi yang baik?

1. Mengakui dan mempercayai ketritunggalan Allah (Mat 28:19-20). Selama denominasi-denominasi ataupun lembaga interdenominasi masih memegang prinsip utama ini, tidak perlu khawatir untuk ikut berperan dan bersekutu di dalamnya.

2. Mempercayai dan menerima Alkitab sebagai satu-satunya Firman Allah (2 Tim 3:16). Alkitab adalah satu-satunya Firman Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih tinggi dari Alkitab, karena Alkitab itu sendiri adalah perkataan Allah sendiri yang ditulis oleh penulis-penulisnya. Selama masih memegang Alkitab sebagai pemegang otoritas tertinggi, maka dengan sendirinya para anggota akan diperbaharui terus dan ditegur dengan Alkitab melalui Roh Kudus.

3. Mempercayai dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya menuju sorga (Yoh 14:6) (Kis 4:12).

4. Mempercayai dan mengakui pentingnya Roh Kudus dalam hidup orang percaya (Yoh 16:13).Rohani, pikiran, fisik, dan emosi kita harus dapat dipimpin oleh Roh Kudus. Sebagai produk dari iman, produk dari pimpinan Roh Kudus, tidaklah benar jika mempermainkan tanggung jawab di dunia ini terutama sebagai mahasiswa. IPK walaupun bukanlah yang utama, tetapi tetap harus diperjuangkan agar kita tidak mempermalukan nama Tuhan.

5. Konsisten dalam melaksanakan amanat agung Tuhan Yesus, yaitu penginjilan dan pemuridan (Mat 28:19-20)

6. Tidak memutlakkan atau memaksakan hal-hal praktis (tata cara) menjadi hal yang prinsip dalam beribadah dan sebaliknya, seperti:

a.  Baptisan, tidak baik jika memaksakan bahwa hanya ada 1 cara baptisan yang benar. Walaupun baptis berarti menenggelamkan, tapi hal tersebut berasal dari manusia. Dalam Alkitab, Tuhan memberikan beberapa cara tentang baptis, seperti dengan awan dan laut (1 Kor 10:2-4), air (Kis 19:1-6), Roh Kudus dan api (Lukas 3:16, Yoh 1:33), dan lainnya.

b. Memanfaatkan karunia rohani secara proporsional dan alkitabiah. Contohnya dalam berbahasa roh, Paulus berkata bahwa seharusnya ada 2 atau sebanyak-banyaknya tiga orang untuk menafsirkan bahasa roh agar bahasa roh tersebut dapat digunakan untuk membangun jemaat, dan jangan juga sebaliknya melarang-larang orang untuk berkata-kata dalam bahasa roh (1 Kor 14:1-40).

c. Tidak memaksakan 1 tata cara ibadah, memuji Tuhan, atau cara berdoa karena dalam kitab Mazmur pun berisi berbagai macam cara pengungkapan syukur dalam hal beribadah, memuji Tuhan, dan berdoa.

d. Tidak selalu menghakimi orang lain menurut ukuran sendiri. Yesus berkata bahwa jika seorang menghakimi orang lain, maka Tuhan sendiri akan menghakimi orang itu dengan ukuran yang dibuatnya sendiri (Luk 6:37-38).

 

Resume Khotbah oleh Divisi Intern PMK ITB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *