Resume Khotbah 29 Agustus 2014: Keselamatan

Posted by

Tanggal: 29 Agustus 2014
Pembicara: Ev. Edward Oei
Ayat Tema: Roma 6:23

Pembicara sempat merasakan berkuliah di Jerman. Oleh sebab itu beliau juga merasakan bagaimana pergeseran kekristenan di negara tersebut. Jerman yang dahulunya tempat reformasi Kekristenan oleh Martin Luther kini tidak menunjukkan nilai-nilai kekristenan lagi. Bahkan beliau pernah dihina saat berdoa sebelum makan, di tempat umum. Orang-orang di sana “mengejek” Tuhannya orang Kristen.

Sejarah menunjukkan 300 tahun sudah cukup untuk menghancurkan kekristenan di negara itu (dan berimbas ke negara-negara sekitarnya) oleh filsafat dunia yang salah. Berawal dari ditemukannnya gulungan kitab filsafat Aristoteles di jazirah Arab pada masa perang Salib, kaum intelektual Eropa kemudian mulai mensubstitusi ajaran-ajaran Kristus dengan filsafat Aristoteles sehingga muncullah pola pemikiran yang disebut idealisme Jerman. Idealisme Jerman berorientasi pada kesejahteraan, kekayaan, dan kesuksesan untuk memuliakan Tuhan. Jadi, orang-orang Kristen di sana beranggapan bahwa dengan bekerja baik, sejahtera dalam kebudayaan, barulah kemudian dapat memuliakan Tuhan. Ini adalah awal kehancuran Kristen.

Sekarang, sebagai mahasiswa Kristen kita seharusnya berpikir : Apa yang sekarang ada di pikiran kita? Untuk apa kita kuliah? Kenapa di kampus ini? Apakah hanya untuk mencari kesejahteraan, kekayaan, dan hidup yang mapan di masa depan?

Kita harus ingat bahwa berdosa bukan hanya tidak taat pada kehendak Tuhan, tetapi tidak taat 100% pada kehendak Tuhan. Jadi walaupun kita melakukan apa yang Tuhan pinta, tetapi hanya 99,99%, itu juga namanya berdosa.

Pembicara merupakan salah seorang designer microchip saat bekerja di Jerman. Di dalam microchip yang beliau design bersama rekan-rekannya, tercantum nama mereka dan produk yang mereka design haruslah menjalankan fungsi yang sudah mereka rancang. Jika tidak demikian maka produk itu dikatakan rusak.

Begitu juga dengan manusia. Manusia diciptakan oleh Tuhan semesta alam. Dalam diri manusia harus tersurat nama sang Pencipta dan manusia harus hidup sesuai tujuan Penciptanya. Jika tidak demikian, manusia juga dikatakan “rusak”, tidak dapat menjalankan hakikatnya sebagai seorang ciptaan.

Pada kenyataannya, manusia memang sudah rusak relasinya dengan Tuhan sehingga manusia tidak mengerti kehendak Tuhan dan tidak dapat menjalankannya. Manusia menempatkan kehendaknya di atas kehendak Bapa, bahkan manusia sekarang mencari kesuksesan dunia terlebih dahulu lalu kemudian ingin memuliakan Tuhan dengan topeng kesuksesan itu.

Namun semua itu diperbaiki oleh Yesus yang adalah Firman itu sendiri. Yesus yang adalah Firman rela menjalani proses-proses manusiawi. Ia rela ada di rahim wanita, lahir sebagai seorang bayi, belajar berbahasa, berjalan, hingga akhirnya mati di salib telanjang (namun orang-orang tidak rela menggambarkan Tuhan disalib telanjang) di kayu salib. Semua itu Dia jalani agar manusia punya relasi yang baik lagi dengan Bapa sehingga manusia mengerti kehendak Bapa dan tidak menjadi ciptaan yang “rusak” lagi.

Jadi, keselamatan bukanlah semata-mata berbicara tentang masuk surga saja. Bukan hanya sekedar hidup lalu mati, dan nantinya dijemput Yesus untuk ke surga. Tetapi keselamatan berbicara tentang relasi yang dipulihkan, antara manusia dan Penciptanya. Mengembalikan relasi artinya manusia tahu untuk apa dia diciptakan, kemudian manusia menuruti seluruhnya (100%) kehendak Bapa dan menghilangkan kehendaknya. Keselamatan adalah hidup dengan pertobatan. Pertobatan mencakup dua makna: menerima penggantian Kristus dan menerima teladan hidup Kristus.

Jadi, orang yang diselamatkan tidak hidup untuk kehendaknya sendiri. Tidak hidup untuk mencari kesuksesan dunia, kekayaan, kemakmuran, dll. sebab pengikut Kristus memang tidak dipanggil untuk sukses di dunia ini, tetapi dipanggil untuk melakukan kehendak Bapa yang di sorga. Menggapai cita-cita tidak sama dengan memuliakan Tuhan. Tetapi orang yang selalu mencari kehendak Bapa dan melakukannya di hidupnya akan menemukan kesuksesan sejati yang dirancangkan Allah untuknya. Jadi sebagai mahasiswa, kita harus meresponi keselamatan itu bukan untuk menyukseskan kehendak kita tapi untuk mencari kehendak Bapa, memulihkan relasi kita dengan Bapa, agar kita mengerti hakikat kita sebagai seorang ciptaan yaitu untuk memuliakan Sang Pencipta.

Resume Khotbah oleh Divisi Intern PMK ITB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *