Menangis

Posted by

Maka menangislah Yesus. —Yohanes 11:35

Setiap orang pasti pernah menangis. Mungkin kita menangis karena kehilangan mainan sewaktu kecil, menangis karena terjatuh dari sepeda, menangis karena tidak mendapatkan sesuatu yang sangat kita inginkan, atau alasan lainnya. Tangisan yang kita buat seringkali dikaitkan dengan tanda kelemahan kita. Pemahaman ini sudah berakar dalam masyarakat. Sehingga, anak laki-laki yang menangis biasanya akan ditegur dan diberhentikan tangisannya dengan alasan “Anak laki-laki tidak sepantasnya menangis.”

Pemahaman yang seperti ini jelas salah, karena tangisan tidak melulu tanda kelemahan. Bahkan Yesus pun pernah menangis. Saat itu, Lazarus meninggal dunia dan Yesus masih dalam perjalanan menemui sahabat-Nya itu. Ketika Maria dan yang lainnya datang menjemput-Nya dengan berlinang air mata, terharulah hati Yesus dan menangislah Dia (Yohanes 11:34-35). Yesus menangis di hadapan orang banyak dan Dia tidak menahan diri-Nya untuk menangis. Orang banyak juga tidak menilai negatif tangisan-Nya, tetapi mereka melihat betapa besar kasih Yesus kepada Lazarus, sahabat-Nya (Yohanes 11:36).

Menangis adalah kejadian alami yang Tuhan buat untuk menjadi ekspresi emosi kita. Saat kita merasa begitu sedih, sakit, marah, atau gembira, tangisan adalah salah satu cara yang efektif untuk mengekspresikannya. Setelah kita menangis, emosi yang meluap itu pun perlahan hilang dan kita bisa mengendalikan emosi kita lagi. Emosi yang tidak terkendali bisa menjadi sumber masalah. Oleh karena itu menangis bukanlah tanda kelemahan, melainkan sumber kelegaan hatimu. (NN)

Menangis bukanlah tanda kelemahan, melainkan sumber kelegaan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *