Zona Abu-Abu

Posted by

Mendengar ungkapan “zona abu-abu” jadi teringat sebuah film karya anak bangsa yang berjudul “Tanah Surga Katanya”. Film ini mengisahkan kehidupan orang-orang yang hidup di daerah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Cerita filmnya mungkin tidak jauh berbeda dengan kisah di film karya anak bangsa lainnya, tetapi ada poin penting yang bisa kita ambil dari film ini, yaitu mengenai sebuah pilihan untuk mempertahankan identitas diri kita dan pilihan ingin menjadi siapa kita sebenarnya.

Hidup di daerah perbatasan membuat orang-orang disana mulai kehilangan identitasnya. Di dalam film ini diceritakan mengenai anak-anak yang masih duduk di bangku kelas 3 dan 4 SD yang lupa dengan lagu kebangsaan Negara Indonesia. Anak-anak tersebut hanya mengetahui lagu Kolam Susu sebagai lagu kebangsaan mereka. Bahkan dari sekian banyak siswa di dalam satu kelas, hanya terdapat satu orang anak yang benar ketika ditugaskan untuk menggambar bendera Negara Indonesia. Di dalam film ini juga dikisahkan mengenai banyak orang yang berpindah kewarganegaraan dari warga Negara Indonesia menjadi warga Negara Malaysia. Bahkan mata uang yang digunakan disana sudah bukan Rupiah lagi, melainkan Ringgit. Namun pada akhirnya, tiba juga saat ketika mereka semua harus menetapkan pilihannya untuk tetap menjadi warga Negara Indonesia atau tidak.

Di dalam kehidupan kita sehari-hari, kita selalu diperhadapkan dengan berbagai pilihan yang mungkin membuat kita berada di “daerah perbatasan”. Disaat seperti itu kita harus tetap berani memilih. Kita tidak bisa terus berada di zona abu-abu. Karena Tuhan tidak suka melihat kita suam-suam kuku. Kalau mau PANAS ya PANAS! Kalau mau DINGIN ya DINGIN! Jangan suam-suam kuku!

Mau maju atau mundur, mau ikut Tuhan dengan segenap hati atau tidak, pada akhirnya kita semua harus menetapkan pilihan kita masing-masing. Ikut Tuhan bukan berarti kita menjadi cupu, ketinggalan zaman, kurang bergaul, dll. Kita adalah anak-anak terang, jadi tunjukanlah terang yang kita miliki itu!

Banyak hal yang dunia tawarkan kepada kita, saat itu juga kita harus segera menetapkan pilihan yang akan kita ambil. Jadi, jangan sampai kita kehilangan identitas kita sebagai anak Tuhan. Kita tidak bisa terus-terusan berada di zona abu-abu, tapi dari sekarang mulailah untuk menetapkan pilihanmu. Zona mana yang kau pilih, hitam atau putih?

Tuhan berkati! (orp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *