Sisa Budaya Pagan dalam Paskah

Posted by

Kelinci PaskahKata “Easter” berakar dari budaya politheis kuno (paganisme). Kata ini sendiri merujuk kepada nama seorang dewi, Astarte, atau Ishtar, istri dari Baal (1 Rj 11:15). Legenda Babilonia kuno menyebutkan, konon ada sebuah telur raksasa dari langit yang jatuh ke dalam sungai Efrat. Dari telur inilah, dewi Ishtar lahir.

Saat ini, media Kristen yang terbit untuk edisi Paskah dan Natal masih sering mencantumkan unsur-unsur pagan—kelinci Paskah, telur Paskah, dan Santa Klaus. Gereja-gereja kita masih mengadakan tradisi permainan cari telur untuk merayakan Hari Kebangkitan, tanpa tahu apa dasar budaya kelinci dan telur ini.

Dewi Ishtar, sebagai Dewi Ibu, diasosiasikan dengan kesuburan dan kemakmuran. Karena asosiasi itu juga, kelinci adalah salah satu bentuk pelambangan Dewi Ishtar. Tentang budaya mencari dan mewarnai telur, sepertinya itu hanya modifikasi budaya untuk membuatnya lebih menarik.

Oh, dan silakan cari-cari sendiri sejarah Santa Klaus dan Pohon Natal.

Membentuk Budaya Baru

Sebagai kristen yang dewasa, bagaimana cara kita mengebaskan sisa-sisa kepaganan itu dari budaya kita? Dasar alkitabiah untuk mandat ini kuat:

Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama allah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu. — Allah, Keluaran 23:13

Sayang sekali, sungguh tidak sopan kalau kita tiba-tiba datang ke gereja X lalu bilang “Heiii Masbrot Pendeta, apa-apaan ini kok perayaan Paskah pake ada acara cari-cari telur? Ada gambar-gambar kelinci pula! Wuoooaah, kafir kamu! Kafir!”

Kita harus menyadarkan orang perlahan-lahan, dengan halus, sabar, dan tersirat. Langkah awal termudah adalah dengan mengubah cara menyebut hari raya ini. Setelah tahu bahwa kita sebaiknya tidak menggunakan kata “Easter”, haruskah kita menggunakan kata Pascha (Yunani), Pesakh (Ibrani), atau Passion (Inggris)?

PASCHA CELEBRATION, atau
PASSION CELEBRATION…

Gak enak ‘kan bacanya?

Untuk mengatasinya, gunakan bahasa Indonesia. SRSLY, DAT IZ TEH SAFEST. Dalam hal ini, “Perayaan Paskah” adalah pemilihan kata yang paling aman dan benar. Di undangan-undangan Paskah yang kita tulis, gantikan semboyan “Easter Celebration” dengan “Perayaan Paskah” atau “Ibadah Paskah”.

Cara yang tidak kalah penting adalah membuat pencitraan baru untuk Paskah. Tim Sangkakala edisi Paskah 2012 berdedikasi untuk mulai menanggalkan budaya pagan yang masih tersisa dalam kekristenan. Di Sangkakala edisi kali ini tidak akan ada kata “Easter” maupun desain yang menampilkan kelinci maupun telur.

Langkah selanjutnya? Tanamkan pengertian yang benar kepada jemaat sejak dini. Guru sekolah minggu bisa mencari alternatif lain permainan Paskah selain pencarian telur. Misalnya, adakan lomba mewarnai gambar “Kubur yang Kosong” atau undang Ki Manteb Soedharsono untuk membawakan lakon “Domba Penebusan”. Ada ide lain?

2 comments

  1. Mungkin, tidak apa juga memakai budaya pagan kalau memang bisa untuk memuliakan Tuhan juga. Memang harus diarahkan untuk tahu esensi sebenarnya dari paskah terutama untuk anak-anak. Aku juga walaupun dulu pakai main telur paskah, tapi gak terlintas tentang kepaganannya.hehe. Ayo berpikir dengan tidak sempit dan tidak longgar. Gbu

    1. Syalom, Bang Irvan.

      Aku setuju dengan pendapat Abang.
      Menurutku, asal nama Tuhan bisa diperdengarkan ke dunia, cara yang agak aneh boleh-boleh aja, asal tidak menyimpang dari firman-Nya dan iman kita.
      Kayak,

      atau

      Tapi, ada baiknya kalau kita tahu asal-usul dari apa yang kita gunakan sebagai media pengabaran, supaya esensinya tidak bias. Sayangnya, anak-anak kecil yang belum mempunyai kesadaran sendiri untuk mencari tahu lebih dalam tentang hal tersebut, akan menerima mentah-mentah apa yang diajarkan.

      Suatu hari di tengah libur Natal-Tahun Baru, aku tak sengaja menonton liputan kebaktian Natal di suatu gereja. Ada beberapa anak kecil yang diwawancarai, ditanya, “Natal itu apa sih?”
      Agak sedih hatiku ketika mendengar mereka menjawab—menggunakan kosa kata yang terbatas—dengan terpatah-patah “Hadiah… Santa Claus…” :’)

      Jadi, kalau bisa memuliakan Tuhan dengan tanpa unsur kepaganan itu, kenapa nggak? :))

      Maaf kalau kata-kataku kurang berkenan. Atau ada yang nggak nyambung. Atau ada yang kurang tepat. :3
      Tuhan berkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *