Pengendalian Diri

Categories: Catatan Khotbah

Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. (Amsal 25:28)

Dewasa ini, mengendalikan diri merupakan sesuatu yang sangat sukar dilakukan. Ditambah dengan berbagai perkembangan teknologi yang ada di sekitar kita, godaan yang timbul semakin berat. Akan tetapi, sebagai mahasiswa kristen, kita dituntut untuk dapat mengendalikan diri, melepaskan segala ikatan nafsu duniawi, dan tetap menjaga kekudusan hidup kita.  Sesungguhnya, hidup kita bagaikan sebuah pertandingan maraton yang perlu kita selesaikan hingga garis akhir.

Apa pengertian dari pengendalian diri?

Pengendalian diri berasal dari bahasa Yunani dengan kata egkateria yang berarti memiliki kuasa untuk menahan diri (self resistant) dan menahan nafsu (self continence). Pengendalian diri merupakan salah satu rasa dari buah roh yang tertulis di Galatia 5:22,23:

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”

Mengapa kita harus mengendalikan diri?

Pengendalian diri sangat penting untuk dilakukan agar kita dapat menguasai diri. Menurut Amsal 25:28, seseorang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. Dapat dikatakan, orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri sangat mudah untuk dihasut oleh iblis yang pada akhirnya, akan merusak diri sendiri dan hubungan dengan orang lain. Apabila kita dapat menguasai diri niscaya kita mampu menahan segala godaan yang ditawarkan kepada kita dan tetap hidup di dalam roh Tuhan.

Hal-hal buruk yang perlu dihindari:

  • Perkataan kotor/caci maki (Yakobus 3:6), apabila kita tidak dapat menguasai lidah kita, dapat menimbulkan pertengkaran.
  • Kecanduan game/DotA
  • Nafsu terhadap pornografi
  • Kesulitan mengendalikan kecanduan hal yang dapat merusak tubuh, rokok
  • Game online dan hiburan online lainnya.

Bagaimana cara mengendalikan diri?

  • Ketahui, sadari dan percayalah bahwa Yesus sudah memerdekakan kita dari setiap ikatan dosa (Galatia 5:1,19-22)
    Yesus telah mati dan bangkit untuk memerdekakan kita dengan menghapus segala dosa dan menyucikan kita. Ia telah memberikan kepadamu anugerah keselamatan yaitu hidup kekal.

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Galatia 5:1)

  • Persiapan menuju kedatangan Tuhan
    Di dalam penantian kita akan kedatangan Tuhan Yesus, Sang Raja Di Atas S’gala Raja, untuk kedua kalinya, kita perlu menjaga agar tubuh, jiwa, dan roh masing-masing kita tidak bercacat.

Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. (1 Tesalonika 5:23)

  • Tubuh, jiwa, dan roh
    Di setiap diri manusia terdiri atas tiga aspek yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Tubuh merupakan fisik manusia; roh adalah hati nurani, intuisi, dan pusat persekutuan dengan Tuhan; jiwa merupakan pikiran, perasaan, kehendak dan kemauan.
    Di dalam kehidupan, kita tidak hanya perlu memberikan makan pada tubuh. Roh dan jiwa kita juga memerlukannya. Apabila kita memberi asupan nutrisi yang baik dan cukup bagi roh dan jiwa, kita akan menjadi tangguh dalam melawan segala keinginan daging.
  • Hidup senantiasa dalam persekutuan dengan Bapa melalui pimpinan Roh Kudus dan melekat pada Pokok Anggur (Yohanes 15:1-5)
    Untuk dapat mengendalikan diri, kita harus menaruh fokus kepada Kristus Yesus. Pengendalian hanya berasal dari satu sumber yaitu Roh Kudus dan bukan dari kekuatan sendiri, sehingga kita harus hidup di dalam Roh dan tidak lagi di dalam daging. 

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (Yohanes 15:4)

Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. (Galatia 5:16)

  • Berilah makanan rohani pada Rohmu
    Pengendalian diri sangatlah bergantung dengan bagaimana hubunganmu dengan Tuhan. Kita perlu memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan. Caranya? Berdoa, membaca, dan merenungkan firman Tuhan (saat teduh), doa pribadi, dan ikut persekutuan doa.
  • Ketahui hal yang berguna serta membangun dan mana yang tidak berguna dan tidak membangun
    Hapus yang tidak berguna.
    Kita sangat perlu memilih hal-hal yang disadari berguna dan tidak karena apa yang masuk ke dalam dirimu menentukan hasil akhir dari pekerjaanmu. Belajarlah dari Daniel, seorang tokoh di dalam Alkitab, yang dicatat sebagai orang yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan dan berhasil di dalam pekerjaannya atas dasar ketaatannya kepada Tuhan.

Pada akhirnya, latihlah untuk mengendalikan dirimu dengan bersandar dan hidup di dalam Roh karena semuanya berasal dari Allah dan tetap fokuskan dirimu kepada Tuhan. (giw)

Author: Intermedia

Divisi pelayanan media di Persekutuan Mahasiswa Kristen ITB. Bertanggung jawab atas media sosial, situs, operator di acara Jumatan, dan Warta tiap minggunya. Di PMB, Natal, dan Paskah, Intermedia juga berkarya membuat Sangkakala.

One Response to "Pengendalian Diri"

  1. agustina waruwu Posted on 15 Oktober 2012 at 1:35 pm

    sebuah pelajaran yang sangat berharga

Tinggalkan Balasan