“Sopir Angkot pun Bicara…”

Posted by

Bandung, 19 Juni 2011

Sekitar pukul 14.00 saya naik angkot jurusan Kalapa-Dago berwarna hijau yang mengantarkan saya menuju sebuah travel. Kebetulan angkot tersebut kosong dan sopirnya adalah seorang Bapak yang sudah tua, sekitar 60 tahun ke atas. Saya memutuskan duduk di sebelah Bapak itu.

Saya berinisiatif memulai pembicaraan dengan Bapak tersebut daripada kami berdua saling diem-dieman aja sampai Dipati Ukur, tempat tujuan saya. “Mau ke travel saya, Pak,” kata saya.

”Mau ke Jakarta ya, Mas?”

“Iya Pak, lagi magang di sana, jadinya bolak-balik deh Jakarta-Bandung.”

“Kenapa ga naik kereta aja, Mas? Bukannya ada, ya?”

Secara singkat, padat, dan jelas saya jelaskan kelebihan naik travel daripada naik kereta kepada si Bapak. Selain cepet, deket kantor, deket kosan, ga perlu naik angkutan lagi, dan kalo naik kereta tu gini gitu gini gitu, Pak bla bla bla… Akhirnya Bapak itu diam.

Lalu saya kembali bertanya, “Udah lama, Pak, jadi sopir angkot?”

“Ya, lumayan lah. Bapak bisa nyetir dulu juga dari sini.”

“Bapak asli orang Bandung?”

“Bukan Mas, saya ma orang Cianjur tapi abis tamat SD udah merantau ke Bandung. Selain di Bandung, Bapak juga pernah merantau ke berbagai daerah, Mas, ke Medan, Pekanbaru, Kalimantan, Semarang.” Bapak itu ngejelasin panjang lebar.

Saya iseng bertanya, ”Bapak pernah ke luar negeri ga kalo gitu?”

Bapak itu menjawab lantang ,”Pernah, Mas saya ke Saudi, 8 tahun malah Bapak di sana jadi sopir pribadi.”

“WOW!” Buset dah nih Bapak, ternyata.

“Susah, Mas, kerja di sana. Kalo dapat majikan yang baik mah enak, gaji teratur dikasih. Saya jadi TKI karena terpengaruh temen yang sukses abis pulang dari sana, Mas. Karena Bapak waktu itu masih muda ya apa salahnya mencoba tantangan. Selain itu, niat Bapak juga pengen naik haji dan umroh, kalo kerja gini-gini aja ga bakal kesampaen, Mas”.

Saya pun bertanya, ”Bapak sekarang udah haji?”

Alhamdulillah, udah Mas,” jawab si Bapak. Luar biasa nih si Bapak.

“Tapi orang Saudi tu sukanya foya-foya, Mas, ga yang laki, ga yang perempuan, sama aja. Perempuannya juga suka jalan-jalan keluar meskipun udah malam hari. Jadi sopir saya harus siap 24 jam. Waktu tidur ya kadang jadi ga teratur”.

”Wah, bahasa Arab Bapak lancar dong. 8 tahun, kan?”

“Nggak juga sih, Mas, yang penting bisa dikit-dikitlah,” jawab si Bapak. “Yang jago itu ya yang jadi pembantu Mas, 2 tahun aja pasti udah fasih ngomongnya,” sambungnya.

“Tapi Mas, Bapak pernah kabur juga lho dari majikan Bapak karena ga digaji dan ga bener majikan Bapak itu. Kalo ngadu ke kedutaan, pasti yang disalahkan itu kita. Orang-orang itu pasti lebih membela orang Saudi-nya, Mas. Jadilah banyak TKI-TKW kaya Bapak kabur, Mas.”

“Kedutaan tu ga punya hukum atau aturan yang membela warganya sendiri, Mas, masih sangat lemah aturan dan hukum untuk kita di sana. Jadi ya percuma kalo ada masalah ngadu ke kedutaan, mending kabur aja. Surat perjanjian antara TKI dan majikan orang Saudi itu lemah banget Mas bobot hukumnya buat kita. Abis kabur, Bapak masih punya beberapa simpanan duit, Bapak pake buat kontrak suatu ruko di Saudi. Di sana, Bapak sempet jadi ya boleh dikata penolong lah buat temen-temen lain yang juga kabur dari majikannya. Semuanya Bapak tampung di ruko itu.”

Sesampai di tempat tujuan saya, pembicaraan kami terhenti. “Terima kasih banyak ya, Pak.”

“Hati-hati ya Dek di Jakarta, semoga sukses selalu buat Mas.”


Bagaimana dengan kisah Ruyati yang dihukum pancung di negara yang sama dengan tempat Bapak sopir angkot itu pernah bekerja? Lemahnya hukum internasional negara ini memang sudah banyak sekali terekspos. Bapak sopir angkot itu juga bercerita bahwa orang Saudi beranggapan para TKI dan TKW adalah orang Indonesia yang sudah dibeli dan kepunyaan mereka (budak-kah?).

Bagaimana seharusnya bentuk perlindungan hukum untuk warga negara Indonesia di luar negeri termasuk orang-orang seperti para TKI dan TKW? Tidak layakkah mereka mendapat perlindungan HAM, hukum internasional -apapun istilahnya itu- yang sama dengan warga negara Indonesia dengan status sosial yang mungkin di atas mereka.

Hey, temen-temen mahasiswa hukum, HI, dan sospol! Bagaimana pendapat kalian ! Bisakah kelak kalian membetulkan hukum, aturan dan perundang-undangan yang sudah ada sekarang ini. Apa yang bisa kita perbuat untuk bangsa ini, teman-teman?

Sedikit mengutip kata-kata Yanes David Sidabutar GD ’07 dalam tulisannya yang berjudul “Ketika Panggilan Menunggu: ITB di Mana Posisimu?”

Mari bangkit mahasiswa!”

Hentikan kebodohanmu, pakai akal budimu!

Dengan berteriak-teriak dan berderap di tengah-tengah komunitas sejenismu tidak membuatmu menjadi seorang PEMBERANI”.

Berani adalah ketika engkau tersadar oleh akal budimu, berubah oleh kesadaran itu,dan menghadapi arus kebodohan di sekitarmu dengan cara yang elegan dan santun, tanpa harus membinasakan”.

Apa panggilan kita sebagai mahasiswa untuk bangsa ini sebenarnya ?

Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya” –Pramoedya Ananta Toer- Tetralogi Buru: Jejak Langkah.

Semoga tulisan ini memberkati. You`ll Never Walk Alone.
Samuel Mahendra-Biology 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *