Mei 062012
 

Kelinci PaskahKata “Easter” berakar dari budaya politheis kuno (paganisme). Kata ini sendiri merujuk kepada nama seorang dewi, Astarte, atau Ishtar, istri dari Baal (1 Rj 11:15). Legenda Babilonia kuno menyebutkan, konon ada sebuah telur raksasa dari langit yang jatuh ke dalam sungai Efrat. Dari telur inilah, dewi Ishtar lahir.

Saat ini, media Kristen yang terbit untuk edisi Paskah dan Natal masih sering mencantumkan unsur-unsur pagan—kelinci Paskah, telur Paskah, dan Santa Klaus. Gereja-gereja kita masih mengadakan tradisi permainan cari telur untuk merayakan Hari Kebangkitan, tanpa tahu apa dasar budaya kelinci dan telur ini.

Dewi Ishtar, sebagai Dewi Ibu, diasosiasikan dengan kesuburan dan kemakmuran. Karena asosiasi itu juga, kelinci adalah salah satu bentuk pelambangan Dewi Ishtar. Tentang budaya mencari dan mewarnai telur, sepertinya itu hanya modifikasi budaya untuk membuatnya lebih menarik.

Oh, dan silakan cari-cari sendiri sejarah Santa Klaus dan Pohon Natal.

Membentuk Budaya Baru

Sebagai kristen yang dewasa, bagaimana cara kita mengebaskan sisa-sisa kepaganan itu dari budaya kita? Dasar alkitabiah untuk mandat ini kuat:

Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama allah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu. — Allah, Keluaran 23:13

Sayang sekali, sungguh tidak sopan kalau kita tiba-tiba datang ke gereja X lalu bilang “Heiii Masbrot Pendeta, apa-apaan ini kok perayaan Paskah pake ada acara cari-cari telur? Ada gambar-gambar kelinci pula! Wuoooaah, kafir kamu! Kafir!”

Kita harus menyadarkan orang perlahan-lahan, dengan halus, sabar, dan tersirat. Langkah awal termudah adalah dengan mengubah cara menyebut hari raya ini. Setelah tahu bahwa kita sebaiknya tidak menggunakan kata “Easter”, haruskah kita menggunakan kata Pascha (Yunani), Pesakh (Ibrani), atau Passion (Inggris)?

PASCHA CELEBRATION, atau
PASSION CELEBRATION…

Gak enak ‘kan bacanya?

Untuk mengatasinya, gunakan bahasa Indonesia. SRSLY, DAT IZ TEH SAFEST. Dalam hal ini, “Perayaan Paskah” adalah pemilihan kata yang paling aman dan benar. Di undangan-undangan Paskah yang kita tulis, gantikan semboyan “Easter Celebration” dengan “Perayaan Paskah” atau “Ibadah Paskah”.

Cara yang tidak kalah penting adalah membuat pencitraan baru untuk Paskah. Tim Sangkakala edisi Paskah 2012 berdedikasi untuk mulai menanggalkan budaya pagan yang masih tersisa dalam kekristenan. Di Sangkakala edisi kali ini tidak akan ada kata “Easter” maupun desain yang menampilkan kelinci maupun telur.

Langkah selanjutnya? Tanamkan pengertian yang benar kepada jemaat sejak dini. Guru sekolah minggu bisa mencari alternatif lain permainan Paskah selain pencarian telur. Misalnya, adakan lomba mewarnai gambar “Kubur yang Kosong” atau undang Ki Manteb Soedharsono untuk membawakan lakon “Domba Penebusan”. Ada ide lain?

Apr 152012
 

 “Ah, kok pecah sih gambarnya’”

“Oh, itu resolusinya kurang besar, cari yang ukuran pikselnya lebih besar lagi, ya”

 

Piksel merupakan salah satu jenis satuan yang digunakan sebagai ukuran gambar di komputer. Suatu gambar yang ukuran pikselnya kecil, bila diperbesar, maka akan terlihat bentuk kotak-kotak dari bagian gambar tersebut. Lalu, apa sih yang menjadi piksel dalam kehidupan mahasiswa Kristen?

Kita ini mahasiswa, yang bukan hanya datang untuk belajar di ruang kelas, namun juga di lingkungan, termasuk dalam berorganisasi dan bersosialisasi. Ditambah lagi, kita adalah mahasiswa Kristen, yang punya organisasi seperti PMK, kita pun merupakan anggota himpunan jurusan, unit, KM, dan organisasi lainnya. Tentu bukan dengan tanpa tujuan, dengan mengikuti organisasi tersebut, kita berlatih untuk menjadi pemimpin, baik atas diri sendiri (dalam manajemen waktu misalnya), maupun untuk orang lain yang bekerja sama dengan kita.

Banyaknya organisasi yang kita ikuti pun menuntut kita untuk membuat prioritas. Ya, kita sebagai manusia yang punya keterbatasan, tentu tidak bisa berada di dua atau lebih tempat sekaligus dalam jenis organisasi yang berbeda. Sebagian dari kita mungkin memutuskan untuk aktif di PMK, menjadi pelayan divisi, menjadi kadiv atau mungkin menjadi ‘hadirin yang setia’ dalam setiap kegiatan PMK. Namun, sebagian besar juga aktif dalam keorganisasian kampus. Apakah bila kita tidak aktif di PMK, kita jadi jauh dengan hal-hal rohani? Apakah kita menjadi orang yang sekuler?

Hupps, buang pemikiran piksel yang kecil tersebut jauh-jauh. Ayo perbesar resolusi kita, perluas lagi pandangan dan pengetahuan kita akan Firman Tuhan. Agar di manapun kita ditempatkan Tuhan, biarlah itu tetap merupakan pelayanan kita yang sejati. Kita menjadi anak divisi di PMK, melayanilah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan (Kolose 3:23). Saat kita melayani di unit atau himpunan pun, kita akan tetap berdoa untuk unit maupun himpunan kita dan kita tetap datang ke pertemuan ibadah, karena itulah yang menguatkan kita. Ingat kewajiban kita sebagai orang-orang yang telah menerima keselamatan, selain melayani adalah beribadah dan memenuhi amanat agung Tuhan. Ibrani 10:25 menyatakan dengan tegas bahwa janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan ibadah, yaitu dalam konteks kita adalah Jumatan, di gereja kita masing-masing sekalipun, atau bahkan persekutuan doa fakultas kita dan persekutuan lainnya.

Kita adalah terang, seperti yang tertulis pada Matius 13. Bukan setelah kita berbuat sesuatu yang benar, sesuatu yang dilihat orang, baru kita menjadi terang. Tugas terang adalah bercahaya, agar mata kita bisa melihat, orang-orang di sekitar kita pun bisa melihat. Bukan untuk melihat terang itu sendiri, melainkan Sang Sumber Terang itu, agar Dia yang dipermuliakan (Matius 5:16). Kalau kita bekerja agar kita yang dimuliakan, dengan puji-pujian dan jabatan yang tinggi, bukan terang dong namanya Smile

Jadi, mari perbesar resolusi kita, berhentilah mengkotak-kotakkan kegiatan kita dengan ada kalanya aku jadi ‘anak rohani’, dan ada kalanya ‘aku sekuler’. Yuk, jadi cerminan dan pantulan cahaya Yesus di manapun kita ditempatkan-Nya^^.

Mar 302012
 


Kolose 4 : 5-6

“Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”

Pada salah satu jumatan PMK semester yang lalu, kita sempat membahas tentang apa itu hikmat, khususnya dalam pandangan dari mata Tuhan. Kita juga belajar untuk memohon dan meminta hikmat itu di dalam Tuhan, karena Tuhan adalah sumber hikmat itu sendiri. “Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan”(Kolose 2 : 3). Jika kita masih belum mempunyai hikmat, mungkin Tuhan mempunyai rencana-Nya sendiri. Mungkin kita masih belum siap untuk memegang tanggung jawab dalam mempergunakan hikmat dari Tuhan. Namun tahukah kita bagaimana kita akan mempergunakan hikmat yang dikaruniakan oleh Tuhan? Kalau kita tidak tahu, tidak heran jika hikmat itu belum ada di dalam diri kita.

Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada”(Kolose 4 : 5-6). Melalui ayat ini, Paulus ingin memberitahu kita untuk hidup dengan penuh hikmat di dalam Tuhan dan berdampak bagi orang lain, supaya mereka tahu bahwa hanya Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Tuhan adalah sumber hikmat, bahkan hikmat dunia ini merupakan kebodohan bagi Allah. “Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: ‘Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.’” (1 Korintus 3 : 19). Waktu berlalu sangat cepat, gunakan waktu yang ada sebijaksana mungkin untuk kemuliaan Tuhan.

Bagaimana aplikasinya dalam kehidupan kita sebagai mahasiswa? Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil namun yang berdampak besar. Contohnya, menyapa dan memberikan salam saat bertemu teman di kampus, perhatian terhadap teman yang sedang bersedih, peka terhadap suasana hati orang lain, ringan tangan terhadap orang yang membutuhkan, dan selalu berkata-kata yang sopan dan penuh kasih. Janganlah kita hambar terhadap lingkungan kita, tetapi jadilah garam dunia! (wwi)

 

Mar 172012
 

Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. (Amsal 25:28)

Dewasa ini, mengendalikan diri merupakan sesuatu yang sangat sukar dilakukan. Ditambah dengan berbagai perkembangan teknologi yang ada di sekitar kita, godaan yang timbul semakin berat. Akan tetapi, sebagai mahasiswa kristen, kita dituntut untuk dapat mengendalikan diri, melepaskan segala ikatan nafsu duniawi, dan tetap menjaga kekudusan hidup kita.  Sesungguhnya, hidup kita bagaikan sebuah pertandingan maraton yang perlu kita selesaikan hingga garis akhir.

Apa pengertian dari pengendalian diri?

Pengendalian diri berasal dari bahasa Yunani dengan kata egkateria yang berarti memiliki kuasa untuk menahan diri (self resistant) dan menahan nafsu (self continence). Pengendalian diri merupakan salah satu rasa dari buah roh yang tertulis di Galatia 5:22,23:

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”

Mengapa kita harus mengendalikan diri?

Pengendalian diri sangat penting untuk dilakukan agar kita dapat menguasai diri. Menurut Amsal 25:28, seseorang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. Dapat dikatakan, orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri sangat mudah untuk dihasut oleh iblis yang pada akhirnya, akan merusak diri sendiri dan hubungan dengan orang lain. Apabila kita dapat menguasai diri niscaya kita mampu menahan segala godaan yang ditawarkan kepada kita dan tetap hidup di dalam roh Tuhan.

Hal-hal buruk yang perlu dihindari:

  • Perkataan kotor/caci maki (Yakobus 3:6), apabila kita tidak dapat menguasai lidah kita, dapat menimbulkan pertengkaran.
  • Kecanduan game/DotA
  • Nafsu terhadap pornografi
  • Kesulitan mengendalikan kecanduan hal yang dapat merusak tubuh, rokok
  • Game online dan hiburan online lainnya.

Bagaimana cara mengendalikan diri?

  • Ketahui, sadari dan percayalah bahwa Yesus sudah memerdekakan kita dari setiap ikatan dosa (Galatia 5:1,19-22)
    Yesus telah mati dan bangkit untuk memerdekakan kita dengan menghapus segala dosa dan menyucikan kita. Ia telah memberikan kepadamu anugerah keselamatan yaitu hidup kekal.

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Galatia 5:1)

  • Persiapan menuju kedatangan Tuhan
    Di dalam penantian kita akan kedatangan Tuhan Yesus, Sang Raja Di Atas S’gala Raja, untuk kedua kalinya, kita perlu menjaga agar tubuh, jiwa, dan roh masing-masing kita tidak bercacat.

Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. (1 Tesalonika 5:23)

  • Tubuh, jiwa, dan roh
    Di setiap diri manusia terdiri atas tiga aspek yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Tubuh merupakan fisik manusia; roh adalah hati nurani, intuisi, dan pusat persekutuan dengan Tuhan; jiwa merupakan pikiran, perasaan, kehendak dan kemauan.
    Di dalam kehidupan, kita tidak hanya perlu memberikan makan pada tubuh. Roh dan jiwa kita juga memerlukannya. Apabila kita memberi asupan nutrisi yang baik dan cukup bagi roh dan jiwa, kita akan menjadi tangguh dalam melawan segala keinginan daging.
  • Hidup senantiasa dalam persekutuan dengan Bapa melalui pimpinan Roh Kudus dan melekat pada Pokok Anggur (Yohanes 15:1-5)
    Untuk dapat mengendalikan diri, kita harus menaruh fokus kepada Kristus Yesus. Pengendalian hanya berasal dari satu sumber yaitu Roh Kudus dan bukan dari kekuatan sendiri, sehingga kita harus hidup di dalam Roh dan tidak lagi di dalam daging. 

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (Yohanes 15:4)

Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. (Galatia 5:16)

  • Berilah makanan rohani pada Rohmu
    Pengendalian diri sangatlah bergantung dengan bagaimana hubunganmu dengan Tuhan. Kita perlu memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan. Caranya? Berdoa, membaca, dan merenungkan firman Tuhan (saat teduh), doa pribadi, dan ikut persekutuan doa.
  • Ketahui hal yang berguna serta membangun dan mana yang tidak berguna dan tidak membangun
    Hapus yang tidak berguna.
    Kita sangat perlu memilih hal-hal yang disadari berguna dan tidak karena apa yang masuk ke dalam dirimu menentukan hasil akhir dari pekerjaanmu. Belajarlah dari Daniel, seorang tokoh di dalam Alkitab, yang dicatat sebagai orang yang memiliki hubungan baik dengan Tuhan dan berhasil di dalam pekerjaannya atas dasar ketaatannya kepada Tuhan.

Pada akhirnya, latihlah untuk mengendalikan dirimu dengan bersandar dan hidup di dalam Roh karena semuanya berasal dari Allah dan tetap fokuskan dirimu kepada Tuhan. (giw)

Mar 102012
 

Sebagai seorang mahasiswa Kristen, kita dituntut untuk fokus dalam berbagai hal: studi, kemahasiswaan, sampai kegiatan keagamaan. Akan tetapi, tidak sedikit yang pada akhirnya meninggalkan satu atau beberapa kegiatan untuk fokus pada kegiatan lainnya. Contohnya, memutuskan untuk tidak ikut kegiatan keagamaan karena ingin fokus pada studi. Benarkah dengan melakukan hal ini kita dapat dikatakan “fokus”? Tidak. Dalam surat Paulus kepada jemaat Tesalonika, ia menegur orang-orang yang melalaikan pekerjaannya.

 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (2 Tesalonika 3:11-12)

Dalam ayat ini, pekerjaan didefinisikan sebagai setiap tanggung jawab yang kita punyai. Bagi kita, mahasiswa Kristen, pekerjaan/tanggung jawab tersebut adalah kegiatan studi kita, kegiatan keagamaan kita (pemuridan), dan yang lainnya. Oleh sebab itu fokus yang benar adalah bagaimana kita mengatur prioritas kita. Fokus dalam suatu hal seharusnya tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk melalaikan tanggung jawab kita yang lain.

Paulus telah memberi contoh kepada kita tentang hal ini. Fokus Paulus yang terutama adalah memberitakan injil sesuai dengan panggilannya. Akan tetapi, fokus itu tidak membuatnya melalaikan tanggung jawabnya yang lain yaitu pekerjaannya sebagai pembuat tenda.

Dalam membuat prioritas, sudah tentu kita harus menempatkan hubungan kita dengan Tuhan sebagai prioritas fokus kita yang paling utama. Hal tersebut dapat kita bangun dengan membaca alkitab dan melakukan saat teduh setiap hari. Setelah kita membangun hubungan dengan Tuhan, kita juga tidak boleh membiarkan fokus kita kepada Tuhan menjadi buyar karena pengaruh dari orang lain.

Hal-hal yang membuat fokus kita kepada Tuhan menjadi buyar:

  • Ajaran-ajaran yang mempertanyakan Tuhan Yesus sebagai Tuhan.
  • Ajaran-ajaran yang mempertanyakan otoritas Firman Tuhan

Paulus, di dalam 2 Tesalonika 3:6 telah berpesan kepada kita agar kita menjauhkan diri dari orang-orang yang menganut ajaran-ajaran tersebut. Paulus juga berpesan kepada kita agar kita tidak memandang mereka sebagai musuh, melainkan kita harus menegor mereka layaknya seorang saudara.

Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. (2 Tesalonika 3:6)

Tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara. (2 Tesalonika 3:15)

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa fokus kita yang utama haruslah tentang hubungan kita dengan Tuhan. Jika kita telah menempatkan Tuhan sebagai fokus utama kita, pastilah Tuhan juga akan membantu kita untuk tetap fokus kepada kegiatan kita yang lain. (nnl)